SLB NEGERI SEMARANG
SLB NEGERI SEMARANG adalah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus.
Disinilah surganya anak-anak berkebutuhan khusus. kalau ada pembaca
yang ingin menitipkan sumbang saran dan kritik silahkan kirim ke blok
ini.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alhamdulillah tidak henti-hentinya
kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
inayah dan maunahnya kepada kita semua sehingga program pembinaan siswa
berprestasi siswa Slb Negeri Semarang dapat berjalan dengan lancar.
Sehingga
hasil dari bimbingan dari guru SLB Negeri Semarang para siswa yang
mempunyai bakat istimewa telah dapat menunjukkan prestasi mereka dalam
segala kesempatan.
Pada awlanya kita mempunyai prinsip bahwa Tuhan
menciptakan makhluknya pasti tidak aka nada yang sia-sia, ada kelebihan
pasti ada kelamahan-ada kelemahan juga ada kelebihan, sebab itulah tugas
sebagai pendidik anak berkebutuhan khusus mencari batang-batang emas
yang tertimbun lumpur dan pada akhirnya dapat menghasilakan emas murni
yang tidak ternilai harganya.
Harapan kami, semoga Allah masih
memberikan kekuatan dan anugerahnya kepada seluruh guru SLB negeri
Semarang sehingga dapat membina dan mendidik anak-anak berkebutuhan
khusus ini menjadi anak yang berkepribadian luhur dan berguna bagi
bangsanya. Amiin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Semarang, 18 Januari 2009
Wakasek Kesiswaan
Umar, SHI
Jelita Taurina HutabaratMeski
kondisi fisik cacat, bukan berarti selalu terbelakang dan semua berakhir
alias tamat. Adakalanya, penyandang cacat fisik atau mental justru
menonjol di bidang-bidang tertentu. Semisal tarik suara, daya ingat yang
luar biasa, dan olahraga. Tiga siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri
Semarang ini membuktikan diri. Kemampuan mereka bahkan mungkin bisa
dibilang melebihi mereka yang normal.Selepas jam sekolah Selasa (29/7)
kemarin, Jelita Taurina Hutabarat, 13, tak langsung pulang. Dia justru
bermandi peluh saat mengikuti ekstrakurikuler tenis meja di sekolahnya,
SLBN Semarang di Kedungmundu. Gadis yang duduk di kelas I SMP Luar Biasa
(LB) tersebut tangkas memukul bola dengan bet di tangannya. Beberapa
kali, guru olahraga yang menjadi lawannya tampak kewalahan menandingi
kemampuannya. Meski kemampuannya lumayan, dia tak pernah tahu berapa
skor yang telah didapat. Cewek manis ini juga tak paham skor maksimal
tercapai dan menandakan game berakhir. Saat guru olahraga menanyakan
berapa skor yang telah diraih, dia menjawab sekenanya. ”Dua-dua,”
ujarnya memancing gelak tawa. Padahal saat itu dia sudah mengantongi
skor jauh meninggalkan lawannya.Jelita merupakan salah satu penyandang
tunagrahita di sekolah tersebut. Cacat bawaan tersebut membuat
intelegensianya selalu di bawah 50. Akibatnya, siswa kelas C 1 (mampu
latih) tersebut bahkan tak bisa menjawab soal perhitungan yang paling
sederhana sekalipun.Meski begitu, Jelita punya bakat istimewa di
pingpong. Dia baru saja meraih juara I tenis meja putri antarsiswa SLB
se-Jateng. Sebelumnya, dia juga meraih predikat yang sama di tingkat
Indonesia bagian timur. Kemampuan Jelita tersebut diketahui secara tak
sengaja. “Saat ikut pelajaran olahraga dia terlihat luwes memegang bet.
Saat diajari tenis meja, kemampuannya cepat sekali berkembang,” ujar
Kepala SLBN Semarang Ciptono.Walaupun kemampuan akademisnya rendah,
prestasinya di bidang olahraga tersebut terus diasah pihak sekolah.
Ciptono mengaku pihaknya sidah memberikan robot tenis meja yang bisa
mengeluarkan bola secara otomatis sebagai lawan tanding. “Saya
optimistis bila bakatnya terus diasah, dia bisa mewakili Indonesia,”
ungkapnya.
Ivan Adi NugrohoBakat
khusus di bidang olahraga juga dimiliku Ivan Adi Nugroho, 18 siswa SMA
LB kelas II yang menyandang tunarungu. Ivan yang bertubuh atletis
tersebut baru saja menjadi juara I lompat jauh pada Porseni SLB tingkat
Jateng. Pada 31 Juli nanti dia akan berangkat ke Jakarta guna mewakili
Jateng dalam Pekan Olah Raga (POR) anak cacat seluruh Indonesia.
“Kemarin lompatannya bisa 5, 47 meter. Besok di Jakarta Insya Allah bisa
lebih jauh lagi,” ucapnya terbata-bata saat ditanya Radar Semarang.
Komunikasi dengan Ivan beberapa kali harus dibantu gurunya dengan bahasa
isyarat. Bila dia tak tahu maksudnya, tanya jawab dilakukan dengan
mengetik pesan singkat di ponsel. Ivan kemudian menjawab dengan cara
yang sama. Dia mengatakan sudah membelanjakan uang hadiah juara lomba
untuk membeli sepatu baru. “Harganya Rp 200 ribu,” ujar anak bungsu dari
tiga bersaudara tersebut.Sejak masuk sekolah luar biasa, Ivan mempunyai
kemampuan yang menonjol di bidang atletik. Saat berlari, dan melompat
dia terlihat lincah sekali. Sadar akan kemampuannya, pihak sekolah
memolesnya. Pada kejuaraan di Jakarta nanti, sekolah kembali berharap
dia mengukir prestasi.
Selain itu Ivan Adi Nugraha Juga mempunyai
bakat modeling dan Pantomim dan bakatnya itu sudah di tunjukkan kepada
masyarakat pada beberapa event penting tingkat daerah.
Kharisma Rizky Pradana
Kemampuan
khusus di bidang lain dimiliki Kharisma Rizky Pradana, 9, ssiswa kelas 4
yang menderita autisme sejak lahir. Meski autis, Kharisma yang masuk di
kelas dengan kurikulum SD umum ini dikaruniai daya ingat yang luar
biasa. Dia hafal ratusan lirik lagu mulai dari lagu anak-anak, pop,
dangdut, hingga campursari. Kemampuannya beberapa waktu lalu ditorehkan
di Museum rekor Indonesia (Muri) sebagai penyandang autisme yang hafal
250 lagu. Kini koleksi lagu yang dihafal diklaim sudah mencapai 400
lagu.Saat Radar Semarang mengetesnya dengan meminta menyanyikan
lagu-lagu populer, anak pasangan Sumirin-Dyah Puji Lestari ini hafal di
luar kepala. Mulai dari tembang Main Hati milik Andra and The Backbone,
Doi milik Kangen Band, hingga lagu campursari Siti Badriyah. Bocah yang
bercita-cita menjadi dokter spesialis anak ini juga hafal nama-nama
menteri, dan mampu menirukan pidato gurunya saat membuka suatu acara
secara lengkap.Padahal, Kharisma sempat beberapa kali ditolak saat
mendaftar di SD umum. “Dia ditolak karena di sekolah selalu usil, tak
bisa diam, dan mengobrak-abrik ruang kepala sekolah,” ungkap Ciptono.
Bocah hiperaktif itupun lalu didaftarkan di SLB dan menjalani terapi
okupasi untuk konsentrasi dan terapi wicara agar tak selalu membeo.
“Karena di kelas suka nyanyi sambil membuat musik dengan mengetuk-ngetuk
meja, dia diarahkan ke bidang seni musik.” Sebelum jadi seperti
sekarang, penanganan terhadap Kharisma cukup susah. “Sering dia nyanyi
di bawah meja, sambil tiduran, bahkan saat tampil di mal, miknya dibawa
lari masuk toko,” paparnya.Dyah Puji Lestari, ibu Kharisma menambahkan
anaknya sudah bisa membaca dengan lancar di usia 2 tahun tanpa ada yang
mengajari. “Dia juga sudah pintar browsing di internet sendiri,” papar
dia.
LasellaGadis kelas
VI ini sangat anggun dan cantik bahkan tidak terlihat sedikitpun kalau
dia sekolah di SLB Negeri Semarang. Namun demikian dia mempunyai
kelebihan untuk lenggak - lenggok di catwalk sebagai modeling, bahkan
dia menjadi juara III modeling tingkat karesidenan Semarang. Selain itu
lasella juga mempunyai prestasi dibidang menari, bahkan sudah tiga
tarian yang sudah dikuasai dan sudah dipertunjukkan dibanyak kegiatan
keluar.
•Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada
disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih
bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia
dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.
•Rasa
takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal
sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang
disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana
ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa
lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.
PELAKSANAAN MANAJEMEN KURIKULUM PAI BAGI SMALB C (TUNAGRAHITA)
DI SLB NEGERI SEMARANG
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Islam
telah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan. Seperti
yang terdapat dalam QS. Ashaad ayat 29 dimana manusia diperintahkan
untuk mempelajari agama:
Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya
dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran
[1]
Pendidikan
islam tidak hanya diberikan kepada anak yang mempunyai kelengkapan
fisik saja, tapi juga diberikan kepada anak yang mempunyai kelainan dan
kekurangan fisik atau mental, karena manusia mempunyai hak yang sama di
hadapan Allah SWT. Dalam QS. An Nuur ayat 61:
Tidak ada halangan bagi
orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi dirimu
sendiri, makan bersama-sama mereka……….
[2]
Pasal
5 ayat (2) juga disebutkan bahwa “Setiap warga yang memiliki kelainan
fisik, mental, sosial, intelektual dan atau sosial berhak memperoleh
pendidikan khusus”.
[3]
Dengan kata lain perkembangan manusia ada yang wajar atau normal dan
ada pula yang perkembangannya terganggu (abnormal) yang akan berpengaruh
terhadap mental dan jasmani. Sehingga dalam permasalahan pendidikan,
tidak ada perbedaan antara anak yang normal perkembangan jasmani dan
rohaninya, dengan anak yang mengalami kecacatan fisik, seperti anak yang
mengalami kelemahan mental atau sering disebut Tunagrahita
Anak
tunagrahita adalah anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah
rata-rata. Anak tunagrahita memiliki keterbatasan intelegensi, terutama
yang bersifat abstrak seperti belajar dan berhitung, menulis dan
membaca.
[4]
Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar
dengan membeo. Disamping memiliki keterbatasan intelegensi, anak
tunagrahita juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam
masyarakat. Selain itu, juga memiliki keterbatasan dalam penguasaan
bahasa. Keterbatasan lain yang dimiliki anak tunagrahita yaitu kurang
mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan antara yang baik dan
yang buruk, dan yang benar dan yang salah.
Dalam ajaran Islam setiap
manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Kewajiban beribadah ini
diwajibkan kepada manusia yang dalam keadaan sadar, artinya mampu
menggunakan akal dan hatinya untuk membedakan yang baik dan yang buruk.
Begitu pula pada anak tunagrahita, mereka tetap diwajibkan beribadah
kepada Allah selagi dalam keadaan sadar dan tentunya disesuaikan dengan
perkembangan mereka.
Pendidikan agama islam hendaknya ditanamkan
sejak kecil, sebab pendidikan masa kanak-kanak merupakan dasar yang
menentukan untuk pendidikan selanjutnya. Sebagaimana Zakiyah Daradjat
mengemukakan bahwa: pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh
pendidikan, pengalaman, pelatihan yang dilalui sejak kecil.
[5] Dengan harapan mampu mewujudkan ukhuwah islamiyah.
Pendidikan
yang diberikan kepada anak tunagrahita berbeda dengan anak yang normal.
Perbedaan ini bukan pada materi pokoknya melainkan pada segi luasnya
dan pengembangan materi pendidikan agama yang disesuaikan dengan
kemampuan anak tersebut. Para penyandang tunagrahita tidaklah mudah
untuk dididik ajaran agama Islam, Karena kekurangan dan kelemahan mereka
dalam menangkap pelajaran agama serta tingkah laku yang berbeda dengan
anak normal pada umumnya.
Berdasarkan informasi tanggal 16 November
2007, Bandar Lampung (ANTARA News) – mengemukakan bahwa jumlah
tunagrahita atau cacat mental di Indonesia cukup tinggi, mencapai 6,6
juta orang atau tiga persen dari jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa.
[6]
Sementara itu Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, dalam sambutannya
mengatakan di Propinsi Lampung, pada tahun 2006, jumlah siswa cacat
mental yang tercatat di 12 sekolah luar biasa (SLB) daerah setempat
sebanyak 705 orang.
[7]
Padahal jumlah itu belum termasuk yang belum disekolahkan di SLB
sehingga diperkirakan masih banyak penderita cacat mental di Lampung.
Jadi jumlah tunagrahita sangat banyak dan anak-anak tersebut membutuhkan
pendidikan khususnya agama agar dapat hidup berinteraksi dengan
masyarakat pada umumnya.
Kurikulum dan program pengajaran merupakan
salah satu komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik oleh
manajemen sekolah. Menurut E. Mulyasa dalam buku Manajemen Berbasis
Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi, bahwa komponen-komponen
sekolah ada 7, yaitu (1). Kurikulum dan program pengajaran, (2). Tenaga
kependidikan, (3). Ke peserta didik, (4). Keuangan, (5). Sarana dan
prasarana pendidikan, (6). Pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat,
dan (7). Manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan.
[8]
Disamping itu kurikulum juga berfungsi untuk menjabarkan idealisme,
cita-cita pendidikan ke dalam langkah-langkah nyata yang akan menjadi
pedoman untuk melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran. Jika
demikian, maka kurikulum memiliki kedudukan yang sangat strategis karena
menghubungkan idealisme pendidikan di satu sisi dan praktek pendidikan
disisi lain.
[9]
Kurikulum sebagai input pendidikan yang diberlakukan bagi peserta didik
harus mampu meng-cover masa yang berkaitan dengan kehidupan peserta
didik itu sendiri, baik kaitannya dengan posisi sebagai makhluk individu
maupun sosial.
Sehingga kurikulum yang digunakan tunagrahita adalah
kurikulum sekolah reguler (kurikulum nasional) yang dimodofikasi
(diimprovisasi) sesuai dengan tahap perkembangan anak berkebutuhan
khusus, dengan mempertimbangkan karakteristik (ciri-ciri) dan tingkat
kecerdasannya. Modifikasi kurikulum dilakukan terhadap: alokasi waktu,
isi/materi kurikulum, proses belajar-mengajar, sarana prasarana,
lingkungan belajar, dan pengelolaan kelas.
[10]
Dengan ini, maka diharapkan mereka akan mendapatkan sejumlah pengalaman
baru yang kelak dapat dikembangkan anak guna melengkapi bekal hidup.
[11]
Mengingat
kondisi peserta didik yang memiliki keterbatasan intelegensi dan juga
keterbatasan lainnya, dan juga pentingnya pendidikan agama bagi umat.
Maka pelaksanaan kurikulum PAI di SLB harus berjalan sesuai dengan
tujuan, sehingga pengetahuan yang diterima setiap anak tidak berbeda
dengan anak-anak normal maka, diperlukan pelaksanaan manajemen kurikulum
yang matang. Karena manajemen merupakan substansi manajemen yang utama
di sekolah. Maka penulis tertarik untuk mengkaji pelaksanaan manajemen
yang ditetapkan di SLB NEGERI SEMARANG. Karena SLB Negeri Semarang
merupakan satu-satunya SLB Negeri yang ada di Semarang dan mengkhususkan
mendidik anak tunagrahita dengan kategori debil dan embisil.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka untuk mempermudah dalam memahami
permasalahan, penulis membuat rangkaian dan batasan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana kondisi objektif pembelajaran SLB Negeri Semarang?
2. Bagaimana pelaksanaan manajemen kurikulum PAI SMALB C (Tunagrahita) di SLB Negeri Semarang?
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan
Dengan melihat rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan dan menganalisa kondisi objektif SLB Negeri Semarang.
2. Mendeskripsikan dan menganalisa pelaksanaan manajemen kurikulum PAI SMALB C (Tunagrahita) di SLB Negeri Semarang.
2. Manfaat
Dari hasil penelitian ini diharapkan oleh peneliti agar bermanfaat lebih lanjut diantaranya:
1. Sebagai bahan informasi terhadap SLB N Semarang dalam memanaj kurikulum.
2. Sebagai bahan informasi terhadap lembaga-lembaga lain, tentang pelaksanaan manajemen kurikulum.
3. Menambah ilmu pengetahuan tentang manajemen, khususnya manajemen dalam pelaksanaan kurikulum.
D. PENEGASAN ISTILAH
Penegasan
istilah dalam konteks penelitian ini dimaksud untuk menyamakan visi dan
persepsi untuk menghindari kesalahpahaman. Oleh sebab itu diperlukan
beberapa penjelasan tentang istilah-istilah dan pembatasan yang ada
dalam judul skripsi ini.
Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan
dari skripsi ini yang berjudul “Pelaksanaan Manajemen Kurikulum Bagi
SMALB C (tunagrahita) di SLB N Semarang” adalah sebagai berikut:
1. Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa inggris manage yang memiliki arti mengatur, mengurus, melaksanakan, mengelola.
[12]
Sedangkan menurut istilah seperti yang dilakukan Stoner, manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan
usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumberdaya organisasi
lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
[13]
Dalam dunia pendidikan, manajemen lebih ditekankan kepada upaya untuk
mempergunakan sumber daya seefektif dan seefisien mungkin.
[14]
Jadi
manajemen yang dimaksud disini adalah proses bagaimana perencanaan
dibuat, pengorganisasian dilakukan, pelaksanaan dan pengawasan dilakukan
seefektif dan seefisien mungkin dalam dunia pendidikan.
2. Kurikulum PAI
Kurikulum adalah semua kegiatan atau pengalaman belajar yang diperoleh anak didik di sekolah dibawah bimbingan sekolah.
[15]
Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan kata-kata “manhaj” yang
berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak
didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap mereka.
[16]
Sedang
kurikulum PAI adalah bahan-bahan pendidikan agama Islam berupa
kegiatan, pengetahuan, dan pengalaman yang dengan secara sengaja dan
sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan agama Islam. Atau dengan kata lain kurikulum PAI adalah semua
pengetahuan, aktifitas, atau kegiatan-kegiatan dan juga
pengalaman-pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan oleh
pendidik kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama
Islam.
[17]
3. Tunagrahita
Tunagrahita
memiliki arti menjelaskan kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah
rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan
dalam interaksi sosial. Anak tunagrahita atau dikenal juga dengan
istilah keterbelakangan mental karena keterbatasan kecerdasannya
mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di
sekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu anak keterbelakangan
mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan
dengan kemampuan anak tersebut.
[18]
4. SLB Negeri Semarang
SLB
Negeri Semarang merupakan lembaga pendidikan formal yang khusus
mendidik anak-anak yang mempunyai kelainan/abnormal dan merupakan SLB
negeri satu-satunya yang ada di kota Semarang. Dan digunakan peneliti
sebagai obyek penelitian.
Berdasarkan pada penegasan istilah diatas
maka dapat diambil kesimpulan bahwa maksud dari judul skripsi
“Pelaksanaan Manajemen Kurikulum PAI bagi SMALB C (Tunagrahita) di SLB
Negeri Semarang” adalah mengkaji dan menganalisis tentang pelaksanaan
manajemen kurikulum PAI yang diberlakukan untuk anak tunagrahita di SLB
Negeri Semarang.
E. TELAAH PUSTAKA
Dalam telaah pustaka ini, penulis akan mendeskripsikan beberapa penelitian yang ada relevansinya dengan judul penulis.
Dalam
penulisan skripsi yang berjudul ”Studi Tentang Manajemen Kurikulum
Pendidikan Agama Islam Di SMA Unggulan Ponpes Nurul Islami Mijen
Semarang” disusun oleh AH. Irfan membahas mengenai pelaksanaan manajemen
kurikulum PAI yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi kurikulum PAI sehingga diketahui
kendala-kendalanya dan dicari solusinya.
Dalam penulisan skripsi yang
berjudul “Studi Pelaksanaan Kurikulum Di SMU TakhassusAl Qur’an
Kalibeber Wonosobo” disusun oleh M. Taufik Windaryanto. Disini penulis
mengungkapkan pentingnya pengembangan kurikulum dalam rangka peningkatan
kualitas hidup untuk menjawab tantangan jaman.
Dalam penulisan
skripsi yang berjudul “Probematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pada Anak Tunagrahita Di SDLB RMP. Sosrokartono Jepara” disusun oleh
Ukhtin Muthoharoh. Dalam penulisannya mengungkapkan pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam bagi anak tunagrahita serta perilakunya ketika
proses belajar mengajar berlangsung.
Penelitian ini merupakan
penelaah kembali terhadap penelitian-penelitian yang sudah ada, namun
dalam skripsi ini lebih menekankan pada bagaimana sekolahan membuat
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum PAI
dan seorang guru melaksanakan proses kegiatan manajemen yang diterapkan
pada anak abnormal sehingga pendidikan yang mereka peroleh sama dengan
pendidikan yang diperoleh anak pada umumnya.
F. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi
penelitian mengandung prosedur dan cara melakukan verifikasi data yang
diperlukan untuk memecahkan atau menjawab masalah penelitian. Peran
metodologi sangat diperlukan untuk menghimpun data dalam penelitian.
Dengan kata lain metodologi penelitian akan memberikan petunjuk
bagaimana penelitian dilakukan.
[19]Yang
dimaksud dengan metodologi penelitian ialah strategi umum yang dianut
dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan, guna menjawab
persoalan yang sedang diselidiki
[20]
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan
permasalahan yang ada maka bentuk penelitian adalah penelitian
kualitatif deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata,
gambar, bukan angka.
Penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu
dalam ilmu pengetahuan social yang secara fundamental bergantung pada
pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang
tersebut dalam bahasa dan peristilahannya.
[21]
Sementara
itu penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang
ditunjukkan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena
yang ada baik fenomena alamiah maupun rekayasa manusia.
[22]
2. Sumber Data
Adapun sumber data yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Sumber
data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian
dengan mengenakan alat pengukur atau alat pengambil data langsung pada
subjek sebagai sumber informasi yang dicari.
[23]
b. Sumber Data Sekunder
Sumber
data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak
langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitian.
[24]
Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang
telah tersedia. Adapun sebagai data sekunder penulis mengambil dari
buku-buku, pengumpulan dokumentasi, majalah, peraturan, notulen rapat,
catatan harian, serta mengadakan wawancara langsung dengan pihak-pihak
yang terkait dalam penulisan skripsi ini.
3. Metode Pengumpulan Data
Karena
penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) untuk
memperoleh data, maka penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut:
a. Metode Wawancara (interview)
Wawancara
adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung
oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban responden dicatat atau
direkam.
[25]
Metode
ini digunakan untuk menggali data tentang profil sekolah dan
pelaksanaan manajemen kurikulum PAI di SLB Negeri Semarang. Adapun
sumber informasinya adalah:
1) Kepala sekolah SLB Negeri Semarang untuk mendapatkan informasi tentang SLB Negeri Semarang.
2)
WAKA kurikulum untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan
manajemen kurikulum PAI bagi SMALB C (Tunagrahita) di SLB Negeri
Semarang.
3) Guru PAI untuk mendapatkan informasi tentang
pelaksanaan manajemen kurikulum PAI bagi SMALB C (Tunagrahita) di SLB
Negeri Semarang.
4) Pihak-pihak lain yang berkaitan dengan perolehan data dalam penulisan skripsi ini.
b. Metode Observasi
Observasi merupakan salah satu metode utama dalam penelitian kualitatif. Secara umum observasi berarti pengamatan, penglihatan.
[26]
Dan dalam penelitian, metode observasi diartikan sebagai pengamatan dan
pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek
penelitian.
[27]
Teknik
ini digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif,
perhatian, perilaku tak sadar, kebahasaan terhadap fenomena-fenomena
yang terjadi di SLB Negeri Semarang.
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian, maupun melalui dokumentasi.
[28]
Dalam melakukan dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis
seperti buku-buku, dokumen., notulen rapat, catatan harian, dan
sebagainya.
[29]
Dokumentasi ini digunakan untuk mengetahui data-data yang berupa catatan atau tulisan yang berkaitan dengan SLB Negeri Semarang.
4. Metode Analisis Data
Analisis
data merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi susunan yang dapat
dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa
yang terpenting, dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang akan
diceritakan kepada orang lain.
[30]
Data yang terkumpul seperti catatan lapangan, gambar, dokumen, dan
sebagaimana diorganisasikan, dikelola, dan setelah menemukan tema,
kemudian diangkat menjadi substantif.
Setelah semua data terkumpul,
maka penulis berusaha untuk dapat menjelaskan suatu objek permasalahan
secara sistematis serta memberikan analisis secara cermat dan tepat
terhadap objek kajian tersebut.
Analisis data dilakukan secara
induktif yakni berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang
bersifat empiris kemudian temuan tersebut dipelajari dan di analisis
sehingga bisa dibuat satu kesimpulan dan generalisasi yang bersifat
umum.
[31]
Dalam
memberikan interpretasi data yang diperoleh, penulis menggunakan metode
deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang berusaha
mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang bersifat
sekarang.
[32]
H. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I : Pendahuluan
Latar
Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,
Penegasan Istilah, Kajian Pustaka, Metodologi Penelitian, Sistematika
Penulisan.
BAB II : Merupakan Landasan Teori.
Terbagi
menjadi tiga sub bab. Pertama: Tunagrahita yang meliputi (1).
Pengertian, (2). Tingkat, dan (3). Bentuk Pembelajaran Bagi Tunagrahita.
Kedua: Kurikulum PAI yang meliputi (1). Pengertian Kurikulum, (2).
Pengertian Kurikulum PAI, (3). Ketiga: Manajemen Kurikulum yang meliputi
(1). Pengertian Manajemen, (2). Fungsi Manajemen, (3). Manajemen
Kurikulum PAI, (4). Proses Pelaksanaan Kegiatan Manajemen Kurikulum
BAB III : Berisi Laporan Hasil Penelitian.
Yaitu
data penelitian tentang Pelaksanaan Manajemen Kurikulum PAI bagi SMALB C
(Tunagrahita) di SLB Negeri Semarang. Bab ini terdiri dari dua sub bab.
Pertama: Kondisi Umum SLB Negeri Semarang. Yang meliputi (1). Letak
Geografis Dan Historis, (2). Visi, Misi Dan Tujuan, (3). Jumlah
Personalia, Pegawai, dan Peserta Didik, (4). Keadaan Sarana Dan
Prasarana, (5). Struktur Organisasi, (6). Sistem Administrasi,
Manajemen, Dan Wewenangnya, Kedua: Pelaksanaan Manajemen Kurikulum PAI
bagi SMALB C (Tunagrahita) di SLB Negeri Semarang yang meliputi (1).
Perencanaan, (2). Pelaksanaan, (3). Evaluasi dari pelaksanaan manajemen
kurikulum.
BAB IV : Berisi analisis manajemen Pelaksanaan Kurikulum PAI Bagi SMALB C (Tunagrahita) di SLB Negeri Semarang.
Bab
ini terdiri dari dua sub bab. Pertama: Pelaksanaan Manajemen Kurikulum
PAI bagi SMALB C (Tunagrahita) di SLB Negeri Semarang. Kedua: Faktor
penghambat dan Pendukung.
BAB V : Penutup
Bab ini merupakan bab terakhir yang meliputi: Kesimpulan, Saran-Saran, dan Penutup.